Blogger Jateng

Silaturahmi: Kadang yang Kita Butuhkan Bukan Nasihat, Tapi Teman untuk Duduk Bersama

Ada satu hal yang kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya sering kita lupakan: silaturahmi.

Silaturahmi: Kadang yang Kita Butuhkan Bukan Nasihat, Tapi Teman untuk Duduk Bersama

Saking sederhananya, kita kadang menganggap silaturahmi itu cuma datang ke rumah orang, salaman, ngobrol sebentar, makan, lalu pulang. Kalau ada teh dan gorengan, lengkap sudah. Kalau ditambah kopi, lebih lengkap lagi.

Padahal kalau dipikir-pikir, silaturahmi itu jauh lebih luas daripada sekadar berkunjung.

Silaturahmi adalah tentang menjaga hubungan. Tentang menyapa orang yang mungkin sudah lama tidak kita temui. Tentang bertanya, “Apa kabar?” dan benar-benar ingin tahu jawabannya. Tentang menyediakan sedikit waktu untuk orang lain di tengah kehidupan kita yang rasanya setiap hari selalu dikejar sesuatu.

Dan kalau boleh jujur, zaman sekarang silaturahmi justru menjadi sesuatu yang agak mahal.

Bukan mahal karena membutuhkan uang.

Tapi mahal karena membutuhkan waktu dan perhatian.

Kita hidup di zaman ketika untuk menghubungi seseorang sebenarnya sangat mudah. Tinggal buka WhatsApp, ketik nama, lalu kirim pesan.

“Assalamualaikum.”

Selesai.

Tapi anehnya, semakin mudah teknologi membuat kita terhubung, kadang semakin jarang kita benar-benar terhubung.

Grup WhatsApp ada banyak.

Grup keluarga ada.

Grup teman sekolah ada.

Grup kerja ada.

Grup alumni ada.

Grup warga ada.

Grup yang isinya cuma “selamat pagi” dengan gambar bunga juga ada.

Tapi belum tentu kita benar-benar tahu bagaimana kabar orang-orang di dalamnya.

Ada yang sedang capek tapi tidak cerita.

Ada yang sedang punya masalah tetapi memilih diam.

Ada yang sedang membutuhkan teman ngobrol, tetapi gengsi untuk mengatakan.

Makanya, menurut mimin, silaturahmi itu bukan sekadar bertemu badan dengan badan. Silaturahmi adalah mempertemukan perhatian dengan perhatian.

Silaturahmi Tidak Harus Menunggu Acara Besar

Kadang kita punya pikiran bahwa silaturahmi harus direncanakan secara khusus.

Harus ada acara.

Harus ada undangan.

Harus ada makanan.

Harus ada tempat yang bagus.

Padahal sebenarnya tidak selalu begitu.

Silaturahmi bisa sesederhana mengajak teman minum kopi.

“Ngopi, yuk.”

Kalimatnya pendek.

Tapi kadang dari dua kata itu lahir percakapan yang panjang.

Awalnya ngobrol soal kopi.

Lalu pekerjaan.

Lalu keluarga.

Lalu kehidupan.

Lalu tiba-tiba sudah membahas masa depan.

Dan entah kenapa, kalau sudah ngobrol sambil kopi, pembicaraan sering melebar ke mana-mana.

Mungkin itu salah satu keajaiban kopi.

Kopi tidak banyak bicara, tetapi berhasil membuat manusia bicara banyak.

Di sinilah kemudian SIKOJI hadir dengan semangat yang sederhana: Silaturahmi Kopi Ngaji.

Bukan sekadar ngopi.

Bukan sekadar ngobrol.

Dan bukan pula sekadar duduk mendengarkan kajian.

SIKOJI mencoba mempertemukan semuanya dalam suasana yang santai. Ada silaturahmi, ada kopi, ada obrolan, dan tentu saja ada ngaji.

Karena menurut mimin, belajar agama juga tidak harus selalu dalam suasana yang terlalu tegang.

Kadang kita justru lebih mudah menerima ilmu ketika suasananya hangat dan akrab.

Kadang Kita Hanya Butuh Didengarkan

Ada satu hal yang sering kita lupakan dalam bersilaturahmi: tidak semua orang yang bercerita sedang meminta solusi.

Kadang mereka hanya ingin didengarkan.

Ini kelihatannya sederhana, tetapi ternyata sulit.

Ketika teman bercerita tentang masalahnya, kita sering buru-buru memberikan nasihat.

“Harusnya kamu begini.”

“Kalau saya jadi kamu, saya akan begitu.”

“Sudah, jangan dipikirkan.”

“Namanya juga hidup.”

Maksudnya memang baik.

Tapi terkadang orang tidak membutuhkan jawaban.

Mereka hanya membutuhkan seseorang yang duduk di sebelahnya dan berkata:

“Ya, saya ngerti. Pasti berat.”

Selesai.

Tidak perlu seminar tiga jam.

Tidak perlu presentasi PowerPoint.

Tidak perlu membuat diagram alur kehidupan.

Cukup menemani.

Itulah salah satu nilai penting dalam silaturahmi. Kita belajar bahwa manusia tidak selalu membutuhkan orang yang bisa menyelesaikan masalahnya. Kadang manusia hanya membutuhkan orang yang bersedia hadir ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Dan kehadiran seperti itu tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh teknologi.

Chat bisa membantu.

Telepon bisa membantu.

Video call bisa membantu.

Tetapi duduk bersama, saling melihat wajah, tertawa, dan berbicara dari hati ke hati tetap memiliki rasa yang berbeda.

Silaturahmi dan Perbedaan

Menariknya, silaturahmi juga mengajarkan kita untuk bertemu dengan orang-orang yang tidak selalu sama dengan kita.

Ada yang cara berpikirnya berbeda.

Ada yang kebiasaannya berbeda.

Ada yang pendapatnya berbeda.

Bahkan dalam pembahasan agama pun kita bisa menemukan perbedaan pandangan.

Nah, di sinilah silaturahmi menjadi semakin penting.

Karena kalau kita hanya mau berteman dengan orang yang selalu setuju dengan kita, sebenarnya kita tidak sedang membangun silaturahmi. Kita sedang membangun ruang gema.

Semua orang bilang hal yang sama.

Semua tertawa pada hal yang sama.

Semua mengangguk pada pendapat yang sama.

Begitu ada orang berbeda pendapat, langsung dianggap aneh.

Padahal hidup tidak seperti itu.

Perbedaan adalah bagian dari kehidupan.

Dalam tradisi keilmuan Islam pun terdapat banyak perbedaan pendapat yang lahir dari proses membaca, memahami, menafsirkan, dan mengkaji berbagai sumber.

Yang perlu dijaga adalah adabnya.

Berbeda pendapat boleh.

Berdebat boleh.

Berdiskusi boleh.

Tetapi jangan sampai gara-gara berbeda pendapat, silaturahmi putus.

Jangan sampai gara-gara beda pandangan soal satu persoalan, teman yang sudah puluhan tahun dikenal tiba-tiba dianggap bukan teman lagi.

Kalau begitu, yang menang mungkin argumennya.

Tapi yang kalah hubungan manusianya.

Jangan Menunggu Kehilangan Baru Mengerti Arti Silaturahmi

Ini bagian yang mungkin agak serius.

Kita sering baru menyadari pentingnya seseorang setelah orang tersebut tidak lagi ada di sekitar kita.

Selama masih ada, kita berpikir:

“Nanti saja berkunjung.”

“Nanti kalau sudah senggang.”

“Nanti kalau ada waktu.”

“Nanti kalau pekerjaan sudah selesai.”

Masalahnya, kata “nanti” itu tidak pernah memberikan jaminan.

Kesibukan memang tidak akan pernah habis.

Pekerjaan selalu ada.

Tugas selalu datang.

Tagihan juga tidak pernah mengenal istilah libur.

Kalau menunggu hidup benar-benar kosong untuk bersilaturahmi, mungkin kita tidak akan pernah berangkat.

Karena itu, silaturahmi harus dibuat menjadi bagian dari kehidupan, bukan menunggu kehidupan selesai sibuk.

Tidak perlu setiap hari.

Tidak harus setiap minggu.

Tetapi sesekali, sempatkanlah.

Datangi orang tua.

Hubungi saudara.

Temui teman lama.

Tanya kabar tetangga.

Bertemu guru.

Atau sekadar mengajak seseorang ngopi.

Kadang satu jam yang kita sisihkan hari ini bisa menjadi kenangan yang sangat berarti beberapa tahun kemudian.

Silaturahmi Tidak Selalu Harus Membawa Buah Tangan

Ada juga penyakit kecil dalam silaturahmi yang mungkin banyak orang alami.

Kita ingin berkunjung, tapi berpikir:

“Nanti bawa apa?”

Akhirnya karena bingung mau membawa apa, kunjungannya tidak jadi.

Padahal silaturahmi bukan lomba membawa oleh-oleh.

Kalau punya rezeki, membawa sesuatu tentu bagus.

Tapi kalau tidak punya, jangan sampai itu menjadi alasan untuk tidak datang.

Karena kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan sekotak makanan.

Bukan hadiah mahal.

Bukan barang bermerek.

Tapi kehadiran.

Bahkan ada orang yang mungkin lebih bahagia ketika kita datang membawa cerita sederhana daripada membawa bingkisan mahal.

Sebab manusia pada akhirnya mengingat bukan hanya apa yang kita berikan, tetapi juga bagaimana kita membuat mereka merasa ketika bersama kita.

Dari Silaturahmi, Kadang Lahir Ilmu

Ada hal lain yang membuat silaturahmi menarik.

Ketika banyak orang berkumpul, selalu ada pengalaman yang bisa dibagikan.

Yang satu punya pengalaman bekerja.

Yang satu punya pengalaman berkeluarga.

Yang satu punya pengalaman belajar.

Yang satu punya pengalaman berdagang.

Yang satu mungkin punya pengalaman hidup yang tidak pernah kita bayangkan.

Dari situ kita belajar.

Tidak semua ilmu harus ditemukan di buku.

Sebagian ilmu justru ditemukan dari pengalaman manusia.

Itulah mengapa mimin suka dengan konsep SIKOJI.

Karena ada ruang untuk bertemu.

Ada ruang untuk ngobrol.

Ada ruang untuk bertanya.

Ada ruang untuk belajar.

Dan tentu saja ada ruang untuk ngopi.

Kalau kemudian dari obrolan santai itu seseorang mendapatkan wawasan baru, rasanya kopi yang diminum menjadi punya cerita tersendiri.

Kopi habis.

Tapi obrolannya mungkin terus teringat.

Silaturahmi di Zaman Serba Cepat

Kita hidup di zaman yang serba cepat.

Makanan cepat.

Pesan cepat.

Informasi cepat.

Belanja cepat.

Balas pesan juga dituntut cepat.

Sampai-sampai kita kadang lupa bahwa hubungan manusia tidak bekerja seperti koneksi internet.

Hubungan membutuhkan proses.

Membutuhkan waktu.

Membutuhkan kesabaran.

Membutuhkan pertemuan.

Membutuhkan perhatian.

Tidak semua hubungan bisa dirawat hanya dengan tombol “like”.

Tidak semua masalah selesai dengan emoji jempol.

Dan tidak semua kabar cukup dijawab dengan “Alhamdulillah, baik.”

Sesekali kita perlu bertanya lebih jauh.

“Benarkah kamu baik-baik saja?”

Dan kita perlu cukup sabar untuk mendengarkan jawabannya.

Mungkin itulah kenapa silaturahmi tetap penting meskipun teknologi semakin canggih.

Karena manusia tetap manusia.

Kita tetap membutuhkan manusia lain.

Pulang dari Silaturahmi, Jangan Cuma Bawa Gelas Kosong

Menurut mimin, silaturahmi yang baik selalu meninggalkan sesuatu.

Bisa berupa senyum.

Bisa berupa semangat.

Bisa berupa ilmu.

Bisa berupa teman baru.

Bisa berupa hubungan yang kembali hangat.

Atau mungkin sekadar perasaan, “Ternyata saya tidak sendirian.”

Itu sudah sangat berarti.

Dan kalau dalam sebuah pertemuan ada kopi, ya Alhamdulillah.

Kalau ada kajian, lebih Alhamdulillah lagi.

Kalau setelah ngopi dan ngaji kita pulang membawa pemahaman baru serta hubungan yang lebih baik, rasanya pertemuan itu benar-benar tidak sia-sia.

Maka SIKOJI bukan hanya soal kopi dan kajian.

Lebih dari itu, SIKOJI adalah salah satu cara sederhana untuk mengingatkan kita bahwa ilmu perlu dibicarakan, hubungan perlu dirawat, dan hidup perlu dijalani bersama-sama.

Mimin sendiri percaya, kita tidak harus menjadi orang yang selalu punya jawaban untuk semua persoalan.

Cukup menjadi orang yang mau datang ketika dibutuhkan.

Mau mendengar ketika orang bercerita.

Mau belajar ketika belum tahu.

Mau bertanya ketika belum paham.

Dan mau tetap bersahabat meskipun tidak selalu sepemikiran.

Karena mungkin itulah inti silaturahmi.

Bukan tentang seberapa sering kita bertemu.

Bukan tentang seberapa mahal yang kita bawa.

Bukan juga tentang seberapa banyak foto yang kita unggah setelah bertemu.

Tetapi tentang bagaimana setelah pertemuan itu, hubungan kita menjadi sedikit lebih baik.

Jadi, kalau hari ini ada teman lama yang belum kita hubungi, mungkin tidak ada salahnya mulai dengan pesan sederhana.

“Bro, kapan ngopi?”

Atau kalau ingin sedikit lebih religius:

“Assalamualaikum, kapan kita silaturahmi?”

Siapa tahu dari satu pesan sederhana itu lahir pertemuan yang menyenangkan.

Siapa tahu dari satu cangkir kopi lahir percakapan yang membuka pikiran.

Siapa tahu dari satu kajian lahir perubahan kecil dalam hidup.

Dan siapa tahu dari satu pertemuan sederhana, kita kembali diingatkan bahwa hidup ini memang terlalu singkat untuk diisi dengan saling menjauh.

Silaturahmi itu tidak harus menunggu punya waktu luang. Kadang kita justru harus meluangkan waktu untuk silaturahmi.

Karena pekerjaan bisa dicari lagi.

Kopi bisa dibuat lagi.

Pertemuan, belum tentu.

Maka mari tetap menyambung yang sudah dekat, mendekatkan yang mulai jauh, dan membuka pintu untuk pertemanan yang baru.

Ngopi boleh.

Ngaji jangan lupa.

Silaturahmi apalagi.

Salam hangat dari mimin SIKOJI.

Semoga setiap pertemuan membawa keberkahan, setiap obrolan membawa ilmu, dan setiap cangkir kopi menjadi saksi bahwa pernah ada orang-orang yang duduk bersama, saling mendengar, saling belajar, dan pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan.

Posting Komentar untuk "Silaturahmi: Kadang yang Kita Butuhkan Bukan Nasihat, Tapi Teman untuk Duduk Bersama"