Silaturahmi Kopi Ngaji (SIKOJI): Ngopi Santai, Ngaji Serius, Pulangnya Bawa Isi

Ada banyak cara orang bersilaturahmi. Ada yang silaturahmi sambil makan, ada yang sambil jalan-jalan, ada juga yang cukup bertemu lalu ngobrol panjang sampai lupa waktu. Nah, ada satu cara yang menurut saya cukup menarik: Silaturahmi Kopi Ngaji, atau yang biasa disingkat SIKOJI.

Silaturahmi Kopi Ngaji (SIKOJI): Ngopi Santai, Ngaji Serius, Pulangnya Bawa Isi


Namanya saja sudah bikin kita paham bahwa kegiatan ini tidak jauh-jauh dari tiga hal: silaturahmi, kopi, dan ngaji.

Tapi jangan salah. SIKOJI bukan sekadar acara ngopi yang kebetulan diselipi ceramah. Bukan juga pengajian yang kopinya cuma jadi pajangan. SIKOJI punya semangat yang lebih sederhana sekaligus penting: bertemu, ngobrol, belajar, bertukar pikiran, dan membahas agama dengan pendekatan yang ilmiah tetapi tetap membumi.

Karena jujur saja, membahas agama itu kadang terlalu serius. Baru mendengar judul kajian saja, sebagian orang sudah membayangkan duduk dua jam, tangan dilipat, wajah serius, dan pulang membawa tugas membaca kitab setebal batu bata.

Padahal belajar agama tidak harus selalu tegang.

Kadang justru dari obrolan santai sambil ngopi, muncul pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita pendam.

“Ustaz, sebenarnya kenapa begini?”

“Kalau dalam Islam hukumnya bagaimana?”

“Ini dalilnya dari mana?”

“Kalau pendapat ulama berbeda, kita harus bagaimana?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya sangat penting. Sebab belajar agama bukan hanya soal menghafal jawaban, tetapi juga memahami mengapa sebuah jawaban muncul, bagaimana dasar hukumnya, dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Di situlah SIKOJI menemukan tempatnya.

Ngopi Boleh, Ngajinya Jangan Lupa

Kopi itu menarik. Benda kecil dalam cangkir, tetapi sering menjadi alasan orang bertahan ngobrol berjam-jam.

Awalnya hanya, “Ngopi, yuk.”

Lima belas menit kemudian sudah membahas pekerjaan.

Setengah jam kemudian membahas keluarga.

Satu jam kemudian membahas ekonomi.

Dua jam kemudian entah bagaimana pembicaraannya sudah sampai pada persoalan agama, politik, sejarah, bahkan harga tanah.

Kopi memang punya kemampuan sosial yang luar biasa.

Tetapi dalam SIKOJI, kopi bukan sekadar teman ngobrol. Kopi menjadi simbol bahwa belajar agama bisa dilakukan dalam suasana yang akrab dan tidak berjarak.

Peserta tidak harus merasa sedang menghadiri sidang pengadilan. Tidak perlu takut bertanya hanya karena khawatir pertanyaannya dianggap terlalu sederhana.

Sebab dalam belajar, pertanyaan sederhana justru sering membuka pembahasan yang panjang.

Kadang kita merasa pertanyaan kita bodoh. Padahal bisa jadi banyak orang lain juga punya pertanyaan yang sama, hanya saja tidak berani mengucapkannya.

Maka kalau ada yang bertanya, “Kenapa sih hukumnya begini?”

Jangan langsung dijawab, “Sudah, pokoknya begitu.”

Nah, ini yang menarik.

Agama perlu dipelajari dengan ilmu, bukan hanya dengan kebiasaan.

Kajian Ilmiah Agama, Bukan Sekadar Adu Pendapat

Salah satu hal penting dalam SIKOJI adalah pembahasan keagamaan yang berusaha menggunakan pendekatan ilmiah.

Artinya, ketika membicarakan sebuah persoalan agama, kita tidak berhenti pada kalimat, “Kata saya begini.”

Sebab kalau semua memakai “kata saya”, nanti kajian agama berubah menjadi lomba siapa yang paling percaya diri.

Yang lebih penting adalah melihat sumber, dalil, penjelasan ulama, konteks sejarah, dan bagaimana para ahli memahami persoalan tersebut.

Misalnya ketika membahas sebuah hadis, kita tidak hanya membaca terjemahannya lalu langsung mengambil kesimpulan. Kita bisa membicarakan siapa yang meriwayatkannya, bagaimana kualitas hadisnya, bagaimana ulama memahaminya, dan bagaimana hadis tersebut ditempatkan dalam pembahasan fikih.

Begitu juga ketika membahas ayat Al-Qur'an. Ayat tidak seharusnya dipotong dari konteks hanya untuk memenangkan sebuah argumen.

Karena ayat Al-Qur'an bukan meme WhatsApp yang bisa dipotong satu baris lalu dikirim ke grup keluarga.

Perlu dilihat konteks ayat, sebab turunnya ayat jika berkaitan dengan pembahasan tersebut, penafsiran para ulama, serta hubungan ayat dengan ayat lainnya.

Di sinilah pentingnya tradisi ilmiah dalam belajar agama.

Kita boleh berbeda pendapat. Bahkan dalam sejarah keilmuan Islam, perbedaan pendapat bukan sesuatu yang asing.

Yang menjadi masalah bukan perbedaannya.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita berbeda pendapat lalu menganggap orang yang berbeda dengan kita pasti tidak paham agama.

Padahal bisa jadi dia membaca referensi yang berbeda.

Bisa jadi dia mengikuti pendapat ulama yang berbeda.

Atau mungkin kita sendiri yang belum membaca cukup banyak.

Jangan Takut dengan Perbedaan Pendapat

Kalau SIKOJI membahas agama secara ilmiah, maka kita juga harus siap bertemu dengan satu hal yang kadang membuat kita tidak nyaman: perbedaan pendapat.

Ada masalah yang jawabannya jelas.

Ada juga masalah yang sejak dahulu memang menjadi bahan perdebatan para ulama.

Dalam persoalan seperti itu, perbedaan pendapat bukan berarti agamanya tidak jelas. Justru itu menunjukkan bahwa para ulama memiliki tradisi berpikir yang sangat kaya.

Mereka membaca dalil, menimbang kaidah, melihat konteks, membandingkan riwayat, kemudian menghasilkan kesimpulan.

Kita yang hidup ratusan tahun kemudian kadang baru membaca satu artikel di media sosial sudah merasa menjadi mufti.

Ini yang perlu direnungkan.

Internet membuat informasi agama sangat mudah ditemukan. Tetapi kemudahan mendapatkan informasi tidak otomatis membuat kita mudah mendapatkan pemahaman.

Google bisa membantu kita menemukan tulisan.

YouTube bisa membantu kita mendengarkan kajian.

Media sosial bisa mempertemukan kita dengan berbagai pendapat.

Tetapi tetap diperlukan kemampuan untuk memilah informasi.

Sebab di internet, orang yang belajar agama selama dua puluh tahun dan orang yang baru membaca dua artikel bisa sama-sama membuat video dengan judul:

“TERNYATA SELAMA INI KITA SALAH!”

Judulnya memang menarik.

Isinya? Nah, itu yang perlu diperiksa.

SIKOJI dan Budaya Bertanya

Menurut saya, salah satu hal yang sangat penting dari kegiatan seperti SIKOJI adalah membangun budaya bertanya.

Kita jangan sampai menjadi orang yang hanya menerima informasi tanpa pernah bertanya.

Bertanya bukan berarti tidak beriman.

Bertanya bukan berarti membangkang.

Bertanya bisa menjadi bagian dari proses memahami.

Nabi Ibrahim sendiri dalam Al-Qur'an dikisahkan bertanya kepada Allah tentang bagaimana Dia menghidupkan orang yang mati. Pertanyaan tersebut bukan karena Ibrahim tidak percaya, tetapi untuk menenteramkan hatinya.

Artinya, ada ruang dalam tradisi keislaman untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari pemahaman.

Tentu saja bertanya juga perlu etika.

Jangan bertanya hanya untuk menjatuhkan.

Jangan berdiskusi hanya untuk mencari kemenangan.

Sebab tujuan belajar agama bukan memenangkan debat.

Tujuannya adalah mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan, pada akhirnya, memperbaiki kehidupan.

Dari Kopi ke Kehidupan

Kajian agama akan terasa jauh dari kehidupan kalau hanya berhenti di teori.

Kita bisa bicara tentang kejujuran selama satu jam, tetapi yang lebih penting adalah apakah setelah pulang kita menjadi sedikit lebih jujur.

Kita bisa membahas silaturahmi panjang lebar, tetapi yang lebih penting adalah apakah setelah kajian kita mau menghubungi saudara yang sudah lama tidak kita sapa.

Kita bisa membahas akhlak, tetapi apakah kita masih mudah marah ketika ada orang menyerobot antrean?

Nah, ini bagian yang kadang tidak masuk slide presentasi.

Agama bukan hanya bahan diskusi.

Agama adalah sesuatu yang seharusnya hadir dalam cara kita bekerja, berbicara, berteman, berkeluarga, menggunakan media sosial, bahkan dalam cara kita berbeda pendapat.

Karena itu, kajian yang baik bukan hanya membuat kepala kita penuh informasi, tetapi juga membuat hati dan perilaku kita bergerak.

Silaturahmi yang Tidak Hanya Sekadar Bertemu

Silaturahmi sering dipahami sebagai bertemu dan saling berkunjung.

Itu benar.

Tetapi silaturahmi juga bisa menjadi ruang untuk membangun hubungan yang lebih luas: antara orang yang berbeda usia, latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir.

Di SIKOJI, orang datang bukan hanya untuk mendengarkan materi.

Ada yang datang karena ingin belajar.

Ada yang ingin bertemu teman.

Ada yang penasaran dengan tema kajian.

Ada juga mungkin yang awalnya datang karena diajak teman dan berpikir, “Ya sudah, daripada di rumah cuma scroll TikTok.”

Tidak masalah.

Yang penting datang.

Karena bisa jadi dari pertemuan sederhana itu muncul sesuatu yang lebih besar: persahabatan, diskusi, ilmu, atau bahkan perubahan cara pandang.

Dan bukankah banyak hal besar dalam hidup memang dimulai dari pertemuan yang sederhana?

Kopinya Bisa Habis, Ilmunya Jangan

Pada akhirnya, SIKOJI bukan tentang kopi.

Kopi hanyalah teman.

Yang lebih penting adalah silaturahmi dan ilmu.

Kopi boleh habis dalam satu jam.

Gelas boleh kosong.

Kue di meja boleh tinggal remah-remahnya.

Tetapi semoga ada sesuatu yang dibawa pulang: pertanyaan baru, pemahaman baru, atau kesadaran baru.

Sebab belajar agama tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Bisa dimulai dari satu pertemuan.

Satu pertanyaan.

Satu obrolan.

Satu halaman buku.

Atau bahkan satu cangkir kopi.

Yang penting kita mau terus belajar.

Karena semakin banyak kita belajar, seharusnya semakin kita sadar bahwa ilmu kita masih sedikit.

Dan mungkin itulah salah satu tanda bahwa belajar agama benar-benar memberikan manfaat: kita tidak menjadi semakin sombong karena merasa paling tahu, tetapi justru semakin rendah hati karena menyadari luasnya ilmu Allah.

Jadi, kalau suatu hari ada yang mengajak:

“Ngopi, yuk.”

Jangan buru-buru bertanya, “Di mana?”

Coba tanya juga:

“Ada ngajinya nggak?”

Kalau ada, mungkin itu bukan sekadar ajakan ngopi.

Mungkin itu ajakan untuk silaturahmi, berpikir, belajar, dan pulang membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kafein.

Itulah SIKOJI: Silaturahmi Kopi Ngaji. Santai tempatnya, serius ilmunya, hangat silaturahminya.

Komentar